Dari Lapangan

Menumbuhkan Minat Baca Anak Melalui Ekspresi dan Imajinasi

  • Article 3

Tanggal Posting: 11 Juni 2018 | Penulis: Enda Hidayat - Literacy Development Program

Wuzzz ... wuzzz ... wuzzz …, terdengar kencang diiringi kepakan tangan di pojok ruangan. Neng … nong … neng … gung …, suara gamelan pun mengalun merdu dan sesekali terdengar suara guk … guk … anjing yang sedang dikejar-kejar oleh pemiliknya. Suara-suara tersebut muncul dari peserta yang sedang praktik membacakan cerita. Namun tidak hanya sekadar membacakan cerita; intonasi suara, ekspresi, dan gerak tubuh menjadi bagian yang juga penting.

Praktik tersebut merupakan bagian dari Training of Trainer Kegiatan Membaca dan Perpustakaan Ramah Anak. Pelatihan ini atas kerjasama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan – Pembinaan Sekolah Dasar dan Menengah bersama Room to Read dan ProVisi Education yang berlangsung pada 6-7 Juni 2018 di Pajajaran Suite, Bogor.


[David Strawbridge (Room to Read) dan Sabrina Esther (ProVisi Education) memeragakan kegiatan Membaca Bersama di kelompok besar]

Selama dua hari sebanyak 19 peserta menikmati materi pelatihan yang disajikan langsung oleh David Strawbridge – Associate Director Southeast Asia on Literacy Program of Room to Read. Pada hari pertama peserta diajak membedah kembali teknik memfasilitasi pembelajaran orang dewasa yang efektif. “Memberikan kesempatan untuk diskusi dan melibatkan peserta dalam praktik akan membuat pelatihan bagi orang dewasa menjadi lebih efektif,” ungkap David Strawbridge.

Mengenal kegiatan membaca dan fitur perpustakaan ramah anak menjadi suguhan menarik pada hari kedua. Membaca Lantang dan Membaca Bersama merupakan kegiatan membaca yang dapat dilakukan oleh guru bersama murid secara terjadwal. Sebelum melakukan kegiatan membaca guru harus memahami jalan cerita kemudian mempresentasikannya melalui suara, ekspresi, dan gerak tubuh. Sehingga anak dapat memahami, menikmati, bahkan berimajinasi sesuai dengan cerita.

Kegiatan membaca dapat diaplikasikan guna meningkatkan minat baca anak yang rendah ditambah pengaruh gawai yang menggantikan ketertarikan anak pada buku” ungkap Agus Mardianto – Analis Pelaksana Kurikulum, Dikdasmen, Kemdikbud. Lanny Anggraini - Seksi Penilaian, Subdit Kurikulum, Dikdasmen, Kemdikbud, menambahkan, “Kegiatan membaca dapat dilaksanakan pada 15 menit pertama sebelum jam pelajaran. Meskipun buku yang dibaca tidak sesuai dengan materi pelajaran tapi kegiatan ini dapat menjadi pembiasaan. Langkah-langkah dalam kegiatan membaca dapat meningkatkan kemampuan anak dalam belajar memprediksi dan menyimpulkan.” 


[Praktik kegiatan Membaca Lantang di kelompok kecil]

Untuk mendorong tumbuhnya kebiasaan membaca pada anak, beberapa fitur perpustakaan ramah anak dapat diaplikasikan di perpustakaan sekolah. Seperti pemanfaatan rak lama untuk pemajangan buku dengan sampul yang terlihat. Penjenjangan buku sesuai dengan kemampuan membaca anak. Selain itu, “Sistem peminjaman buku yang mudah dan cepat akan mendorong anak untuk mengembangkan kebiasaan membaca di rumah bersama orangtua,” tambah David Strawbridge.


[Praktik kegiatan Membaca Bersama di kelompok besar]

 

 

Bagikan Postingan Ini

ProVisi Education

ProVisi Education adalah konsultan peningkatan mutu pendidikan dan mitra pelaksana bagi lembaga dan perusahaan dalam mengimplementasikan program-program pengembangan pendidikan. Kami membantu program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), lembaga swadaya masyarakat (NGO), dinas pendidikan, dan sekolah,…
Selengkapnya